Advertisement
![]() |
Penulis: Zakiul Faqih |
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin berkembang, istilah etik, etika, dan etis bukanlah sesuatu yang asing. Ketiga istilah tersebut sering kita dengar dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari lingkungan pendidikan, organisasi, pemerintahan, pekerjaan, hingga kehidupan bermasyarakat. Banyak orang mampu menjelaskan bahwa etika berkaitan dengan nilai baik dan buruk, benar dan salah, serta bagaimana seseorang seharusnya bersikap terhadap orang lain. Namun, di balik banyaknya orang yang memahami pengertian tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang lebih penting: apakah pemahaman tentang etik, etika, dan etis sudah benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Pada dasarnya, etik dapat dipahami sebagai prinsip atau nilai yang menjadi pedoman seseorang dalam menentukan bagaimana seharusnya ia bertindak. Sementara etika merupakan pemikiran atau kajian mengenai nilai, norma, serta prinsip yang menentukan baik dan buruknya suatu tindakan. Adapun etis lebih mengarah pada perilaku nyata yang sesuai dengan nilai dan prinsip tersebut. Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya mengetahui apa yang baik dan buruk. Pengetahuan tersebut harus diwujudkan melalui tindakan. Sebab, memahami etika tanpa menerapkannya dalam kehidupan akan menjadikan etika hanya sebatas pengetahuan, bukan sebagai pedoman hidup.
Persoalan etika pada masa kini menjadi semakin menarik karena perkembangan teknologi dan media sosial membuat seseorang memiliki ruang yang sangat luas untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan dirinya. Seseorang dapat dengan mudah memberikan komentar, membagikan informasi, mengkritik orang lain, bahkan menyebarkan suatu berita hanya dalam hitungan detik. Di satu sisi, perkembangan tersebut memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk bersuara. Namun, di sisi lain, kebebasan tanpa etika dapat melahirkan berbagai persoalan, seperti penghinaan, penyebaran informasi yang belum tentu benar, perundungan, fitnah, serta tindakan yang merugikan orang lain.
Ironisnya, seseorang terkadang sangat pandai berbicara mengenai moral, etika, dan sopan santun, tetapi belum tentu mampu menerapkannya ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi. Kita sering melihat seseorang menuntut orang lain untuk bersikap sopan, tetapi dirinya sendiri mudah merendahkan orang lain. Ada pula orang yang berbicara tentang kejujuran, tetapi pada saat tertentu memilih untuk menyembunyikan kebenaran demi kepentingannya sendiri. Hal tersebut menunjukkan adanya jarak antara mengetahui nilai etika dan menjalankan nilai etika.
Dalam kehidupan organisasi, misalnya, etika seharusnya menjadi salah satu dasar dalam membangun hubungan antaranggota. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar karena setiap orang memiliki pemikiran dan kepentingan yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, menyebarkan informasi yang tidak benar, atau menghilangkan penghargaan terhadap orang lain. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik yang etis adalah kritik yang disampaikan dengan alasan yang jelas, bahasa yang baik, dan tujuan untuk memperbaiki keadaan, bukan semata-mata untuk mempermalukan seseorang.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan akademik. Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga dituntut memiliki integritas. Kejujuran dalam mengerjakan tugas, menghargai pendapat orang lain, mencantumkan sumber, tidak melakukan plagiarisme, serta mampu berdiskusi dengan baik merupakan bagian dari penerapan etika akademik. Kecerdasan seseorang akan kehilangan makna apabila tidak disertai dengan tanggung jawab moral. Dengan kata lain, orang pintar belum tentu menjadi orang yang etis.
Di sinilah letak persoalan utama dalam kehidupan kita saat ini. Banyak orang berlomba-lomba menjadi pintar, berpendidikan tinggi, memiliki jabatan, dan memiliki pengaruh. Namun, tidak semua orang memberikan perhatian yang sama terhadap pembentukan karakter dan sikap. Padahal, semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab etis yang melekat pada dirinya. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan semakin merasa paling benar. Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin bertanggung jawab, bukan semakin berkuasa untuk merendahkan orang lain.
Etika juga tidak seharusnya hanya digunakan ketika menguntungkan diri sendiri. Etika justru diuji ketika seseorang berada dalam keadaan sulit, ketika kepentingannya bertentangan dengan kepentingan orang lain, atau ketika tidak ada orang yang melihat tindakannya. Bersikap baik ketika mendapatkan pujian merupakan hal yang mudah. Namun, tetap menghargai orang lain ketika berbeda pendapat, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong, dan tetap bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan merupakan bentuk penerapan etika yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, persoalan etik, etika, dan etis pada masa kini bukan lagi sekadar persoalan apakah seseorang mengetahui definisinya atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah sejauh mana nilai-nilai tersebut hadir dalam tindakan nyata. Etika harus keluar dari ruang diskusi dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus terlihat dalam cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menggunakan media sosial, memperlakukan orang lain, menjalankan amanah, serta menyikapi perbedaan.
Pada akhirnya, ukuran seseorang yang memahami etika bukanlah seberapa banyak ia mampu menjelaskan tentang etika, melainkan seberapa konsisten ia menjalankannya. Sebab, etika yang hanya dipahami akan menjadi teori, sedangkan etika yang diterapkan akan menjadi karakter. Kita mungkin tidak selalu mampu menjadi manusia yang sempurna, tetapi kita dapat terus berusaha menjadi manusia yang sadar terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya “Apakah saya memahami etika?”, tetapi juga “Apakah perilaku saya sudah mencerminkan apa yang saya pahami tentang etika?” Karena pada akhirnya, nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia ketahui, tetapi juga oleh bagaimana ia menggunakan pengetahuan tersebut untuk memperlakukan dirinya, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya.
Penulis: Zakiul Faqih
Instruktur Muda HMI Pontianak
