Advertisement
![]() |
| Zaky Maulana Alfakhri Instruktur Muda HMI Pontianak |
Kepemimpinan sering dipandang sebagai kehormatan, padahal pada hakikatnya ia adalah beban tanggung jawab. Pemimpin memegang kewenangan yang dapat menentukan nasib banyak orang. Karena itu, etika menjadi penjaga agar kewenangan tersebut tidak berubah menjadi alat memperkaya diri atau menekan pihak yang lemah.
Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah. Q.S. An-Nisa ayat 58 memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan agar hukum ditetapkan secara adil. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pandangan ini menggeser makna jabatan: dari fasilitas menjadi tanggung jawab, dari kehormatan menjadi pengabdian.
Sejarah memperlihatkan bahwa pemimpin besar dikenang bukan karena kekuasaannya, tetapi karena keteladanannya. Ki Hajar Dewantara merumuskan prinsip kepemimpinan Indonesia yang indah: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pemimpin memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan mendorong dari belakang. Prinsip ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal memerintah, tetapi soal memberdayakan.
Ujian terbesar seorang pemimpin adalah ketika ia memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan kesediaan mendengar kritik adalah ciri pemimpin yang beretika. Tanpa semua itu, jabatan hanya akan melahirkan kesewenang-wenangan, dan organisasi sebesar apa pun akan runtuh dari dalam.
