Advertisement
![]() |
| Dzikri Instruktur Muda HMI Pontianak |
Perkaderan merupakan jantung kehidupan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui Latihan Kader I (LK I), seorang mahasiswa diperkenalkan pada nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, keorganisasian, serta tanggung jawab sebagai kader umat dan kader bangsa. Namun, perkaderan tidak cukup hanya diisi dengan penyampaian materi, diskusi, dan pengujian intelektual. Ada aspek mendasar yang harus senantiasa dijaga, yaitu etika. Etika menjadi landasan bagi setiap individu dalam bersikap, berbicara, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan persoalan selama proses perkaderan berlangsung. Sebab, keberhasilan perkaderan bukan hanya terlihat dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi juga dari nilai-nilai yang dicontohkan dan ditanamkan kepada peserta.
Dalam pelaksanaan LK I, dinamika antara panitia, pemateri, Master of Training (MOT), dan peserta merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, hingga perdebatan dalam mengambil keputusan dapat terjadi kapan saja. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya perbedaan, melainkan pada bagaimana perbedaan tersebut dikelola. Ketika teguran disampaikan dengan nada merendahkan, perdebatan berubah menjadi pertengkaran, atau persoalan internal dipertontonkan tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi, nilai pendidikan dalam perkaderan dapat terganggu. Panitia dan MOT harus memahami bahwa setiap ucapan serta tindakan mereka merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi peserta. Bagaimana mungkin kader diajarkan tentang kedewasaan berpikir dan kebijaksanaan bersikap apabila mereka justru menyaksikan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut?
Etika bukan berarti membungkam kritik atau menghindari perdebatan. Sebaliknya, etika memberikan batas dan arah agar kritik tetap menjadi sarana perbaikan, bukan alat untuk menjatuhkan orang lain. Dalam tradisi intelektual HMI, perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk menguji gagasan, memperkuat argumentasi, dan menemukan solusi yang lebih baik. Jika terdapat kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan, teguran perlu disampaikan secara tegas, tetapi tetap santun dan proporsional. Persoalan yang bersifat internal dapat dibicarakan melalui forum yang tepat tanpa mempermalukan pihak tertentu di hadapan peserta. Dengan demikian, ketegasan tidak kehilangan nilai kemanusiaannya, sedangkan kesantunan tidak menghilangkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Sikap inilah yang perlu dibiasakan oleh setiap kader, terutama mereka yang diberi tanggung jawab dalam mengelola perkaderan.
Pada akhirnya, menjaga etika dalam LK I merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur yang terlibat. Panitia harus mampu menjalankan tugas dengan disiplin, MOT harus memberikan teladan dalam mengarahkan proses perkaderan, dan peserta perlu belajar menghormati setiap orang tanpa kehilangan daya kritisnya.
Etika tidak boleh berhenti sebagai materi yang dibacakan atau nasihat yang disampaikan ketika forum berlangsung, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Sebab, marwah HMI tidak hanya dibangun melalui gagasan besar dan slogan perjuangan, melainkan juga melalui cara kader memperlakukan sesama. Perkaderan yang baik adalah perkaderan yang mampu melahirkan manusia berpengetahuan, berintegritas, dan beradab. Oleh karena itu, sebelum menuntut lahirnya kader yang mampu memperbaiki masyarakat, HMI harus memastikan bahwa proses perkaderan nya sendiri telah menjadi ruang pendidikan yang menjunjung tinggi etika, keteladanan, dan tanggung jawab.
