Labels

Iklan

Ketika “Titah Kanda” Membungkam Nalar Kritis Dinda: Ketakutan Dikucilkan dan Politik Lingkar Dalam

Bung.hedi99
Senin, Oktober 19, 2026
Last Updated 2026-10-19T08:33:33Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 

Abdurrahman Instruktur Muda HMI Pontianak 

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah panjang dalam membangun tradisi intelektual, kepemimpinan, dan perjuangan sosial. Sebagai organisasi kader, HMI semestinya menjadi ruang bagi tumbuhnya pemikiran kritis, pertukaran gagasan, serta pembentukan karakter mahasiswa yang mandiri dan bertanggung jawab. Kaderisasi bukan sekadar proses pewarisan nilai dan pengalaman, melainkan juga upaya melahirkan generasi yang mampu membaca realitas, menguji pemikiran, dan menawarkan gagasan baru bagi perubahan. Namun, cita-cita tersebut menghadapi tantangan ketika hubungan antara senior dan junior justru berkembang menjadi relasi yang menempatkan senior sebagai sosok yang hampir tidak boleh dipertanyakan.

Dalam dinamika organisasi, istilah Kanda dan Dinda pada dasarnya merupakan sapaan kekeluargaan yang mencerminkan kedekatan dan penghormatan antarkader. Akan tetapi, persoalan muncul ketika sapaan tersebut tidak lagi sekadar menjadi simbol persaudaraan, melainkan berubah menjadi instrumen legitimasi kekuasaan. Instruksi seorang senior dianggap benar bukan karena argumentasinya kuat, tetapi karena ia memiliki pengalaman lebih lama, jabatan tertentu, atau kedekatan dengan lingkaran elite organisasi. Dalam situasi demikian, penghormatan perlahan bergeser menjadi kepatuhan, sedangkan persaudaraan berubah menjadi mekanisme pengendalian.


Budaya senioritas yang berlebihan tidak selalu bekerja melalui perintah langsung. Dalam banyak relasi organisasi, tekanan sosial dapat menjadi mekanisme yang lebih halus, tetapi tidak kalah kuat. Kader muda mungkin memilih diam bukan karena sepakat, melainkan karena khawatir kehilangan akses terhadap jaringan, kesempatan memimpin, dukungan dalam forum, atau penerimaan dari kelompok tertentu.


Ketakutan dikucilkan tersebut menciptakan situasi ketika keberanian menyampaikan pendapat harus dibayar dengan risiko sosial. Kader yang berbeda pandangan dapat merasa terasing, sedangkan mereka yang mengikuti arus memperoleh tempat yang lebih aman dalam lingkaran organisasi. Akibatnya, loyalitas terhadap kelompok tertentu berpotensi mengalahkan loyalitas terhadap nilai dan tujuan organisasi.


Di sinilah praktik senior-worship berkelindan dengan politik lingkaran dalam atau inner circle. Relasi personal yang semestinya menjadi sarana membangun solidaritas dapat berubah menjadi alat untuk mengatur akses dan menentukan siapa yang dianggap layak didengar. Kedekatan dengan figur tertentu kemudian lebih menentukan daripada kapasitas, integritas, dan kualitas gagasan.


Jika keadaan ini dibiarkan, organisasi akan kehilangan salah satu kekuatan utamanya, yakni keberagaman pemikiran. Kader tidak lagi menyampaikan apa yang mereka yakini benar, tetapi memilih mengatakan apa yang dianggap aman bagi posisi mereka. Forum diskusi yang seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan berisiko berubah menjadi panggung formalitas, tempat keputusan yang telah ditentukan di luar forum hanya memperoleh pembenaran.


Tentu saja, tidak setiap kedekatan antara senior dan junior merupakan bentuk patronase, dan tidak setiap kritik terhadap senior otomatis benar. Namun, organisasi perlu memiliki mekanisme yang memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak berujung pada pengucilan. Sebuah organisasi kader seharusnya mampu membedakan ketidaksetujuan yang argumentatif dari tindakan yang memang melanggar aturan organisasi. Tanpa pembedaan itu, kritik mudah dicurigai sebagai ancaman, sementara penyalahgunaan pengaruh berpotensi berlindung di balik dalih persaudaraan.


Budaya senior-worship yang berlebihan merupakan persoalan serius bagi kehidupan organisasi kader karena berpotensi mengubah penghormatan menjadi kepatuhan, persaudaraan menjadi ketergantungan, dan kaderisasi menjadi proses reproduksi hierarki. Ketika instruksi senior diterima tanpa dialektika, ketika kritik dipandang sebagai ketidakloyalan, dan ketika ketakutan dikucilkan menentukan sikap kader, organisasi berisiko kehilangan keberanian intelektual yang seharusnya menjadi salah satu kekuatan gerakan mahasiswa.


Oleh karena itu, HMI perlu mengembalikan hubungan antarkader pada semangat persaudaraan yang setara dalam martabat dan terbuka dalam pemikiran. Senior patut dihormati karena keteladanan dan kontribusinya, bukan karena dianggap selalu benar. Junior patut dibimbing tanpa harus dibungkam, dan perbedaan pendapat harus dikelola sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi.


Pada akhirnya, kualitas sebuah organisasi kader tidak ditentukan oleh seberapa patuh kader muda terhadap titah para seniornya, melainkan oleh seberapa berani mereka mempertahankan prinsip, menguji gagasan, dan memperjuangkan kebenaran dengan argumentasi yang bertanggung jawab. HMI tidak membutuhkan generasi yang sekadar pandai mengangguk di hadapan Kanda, tetapi generasi yang mampu berdiri tegak, berpikir merdeka, dan berdialog tanpa kehilangan rasa hormat. Sebab, ketika rasa hormat menuntut pembungkaman nalar, yang sedang dipertahankan bukan lagi persaudaraan, melainkan kekuasaan yang takut dipertanyakan.


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl