Labels

Iklan

Mahasiswa Kian Pasif Berorganisasi di Era Modern, Teori Max Waber

Bung.hedi99
Rabu, Mei 13, 2026
Last Updated 2026-05-13T16:41:24Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

Suhedi Kalbar - Jurnalis.

Aktivitas organisasi kampus saat ini mulai mengalami perubahan besar. Jika dulunya organisasi mahasiswa selalu ramai dengan diskusi, rapat, hingga kegiatan sosial, kini banyak kampus justru menghadapi masalah minimnya mahasiswa aktif dalam organisasi.


Fenomena mahasiswa pasif berorganisasi mulai sering terlihat di berbagai perguruan tinggi. Tidak sedikit organisasi kampus kesulitan mencari anggota aktif, bahkan regenerasi kepengurusan mulai melemah.


Di era modern sekarang, banyak mahasiswa lebih memilih fokus mengejar IPK, kerja sampingan, bisnis online, hingga aktif di media sosial dibanding ikut organisasi kampus.


Mahasiswa lebih nyaman dan asik hal ini bukan sekedar kebetulan. Apalagi ditambah dengan media sosial yang semakin merajalela. Transformasi keadaan menjadi faktor utama era Modern Mahasiswa Pasif Berorganisasi. Dulu, Mahasiswa asik berkumpul bersama di sekretariat kini seakan tinggal kenangan.


Banyak mahasiswa menganggap organisasi kampus terlalu formal, penuh aturan, dan kadang melelahkan. Sementara generasi sekarang lebih suka aktivitas yang fleksibel dan cepat menghasilkan manfaat lebih kita kenal instanisi.


Berdasarkan survei sederhana terhadap 10 mahasiswa, hanya sekitar 28 persen yang masih aktif organisasi. Sisanya mengaku pernah ikut tetapi tidak aktif lagi, bahkan ada yang memang tidak tertarik sejak awal.


Alasan mahasiswa pasif pun beragam bukan tanpa alasan. Pertama Mahasiswa Fokus kuliah dan IPK. Kedua, Sibuk kerja sambilan. Ketiga Lebih nyaman main media sosial. Keempat Tidak percaya organisasi membawa dampak nyata. Kelima faktor Lingkungan pertemanan yang tidak aktif organisasi.


Fenomena ini juga diperkuat tingginya penggunaan internet di kalangan anak muda berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. Sebagian besar generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial dan platform digital.


Pengaruh Era Digital sangat relevan dengan teori tindakan sosial dari Max Weber, seseorang cenderung memilih aktivitas yang dianggap paling menguntungkan bagi dirinya.


Menurut Weber bahwa penelaah konsep-konsep sosiologi sangat penting dalam mengulas ide terkait tindakan sosial (social action) dan bukan dalam konsep empiris. Konsep tersebut tidak menekannkan pada sesorang terkait apa yang harus dilakukan tetapi mengatakan apa yang dapat dilakukan dibawah keadaan-keadaan tertentu. 


Weber memiliki minat yang besar terhadap teori tindakan sosial terkait masalah motivasi, niat (intend) dan perilaku (behaviour). Konsep ini waber menginginkan motivasi merupakan perubahan tingkah laku dalam diri sesorang yang mendorong mereka untuk pencapaian tujuan. Dorongan dan usaha untuk menjadikan seorang individu memiliki usaha, keinginan dan dorong untuk hasil belajar yang tinggi. 


Dalam konteks mahasiswa modern, banyak yang melihat organisasi tidak memberikan hasil cepat. Mereka lebih tertarik mengikuti pelatihan online, membangun personal branding, menjadi content creator, atau mencari penghasilan tambahan.


Belum lagi perkembangan media sosial membuat mahasiswa lebih nyaman berinteraksi secara digital dibanding ikut kegiatan organisasi secara langsung. Akibatnya, budaya diskusi dan aktivitas intelektual di kampus perlahan mulai berkurang.


Kampus-kampus mulai Kehilangan Ruang Kaderisasi. Organisasi sebenarnya bukan hanya soal rapat atau acara kampus. Organisasi menjadi tempat mahasiswa belajar memimpin, berbicara di depan umum, menyusun program, hingga belajar menghadapi konflik.


Namun jika tren pasif ini terus terjadi, kampus dikhawatirkan kehilangan ruang pembentukan karakter mahasiswa. Karateristik adalah jantung membangun interaktif berkehidupan sosial.


Pandangan penulis Kalau mahasiswa hanya fokus kuliah tanpa pengalaman organisasi, kemampuan sosial dan kepemimpinannya bisa kurang terasah. Karena, kepemimpinan bukan soal teori dan metodologi tapi bagaimana secara mental juga teruji.


Di sisi lain, organisasi kampus juga dinilai perlu berbenah. Pola organisasi lama yang terlalu kaku dianggap kurang cocok dengan karakter generasi sekarang. Penulis menawarkan beberapa garis penting mahasiswa modern lebih cocok dengan hal yang kreatif, fleksibel, tidak terlalu formal, mengahasilkan upgrade diri secara realistis dan bisa membantu skill dan network.

Karena itu, banyak pengamat menilai organisasi mahasiswa harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan di tengah budaya digital.


Menurut variabel perlu diperhatikan ialah Intensitas penggunaan media sosial, Beban akademik, Faktor ekonomi dan Minat sosial mahasiswa. Empat indikator inilah yang bisa di gunakan dalam pemecahan masalah di era modern.


Mahasiswa pasif berorganisasi di era modern bukan terjadi tanpa alasan. Perubahan gaya hidup digital, tekanan ekonomi, budaya instan, hingga perubahan cara berpikir generasi muda menjadi faktor utama.


Meski begitu, organisasi tetap penting sebagai ruang belajar sosial dan kepemimpinan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana organisasi kampus bisa tampil lebih modern, relevan, dan dekat dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan